Penderitaan adalah tema penting dalam filsafat Schopenhauer. Gagasannya muram. Sering ia dimahkotai sebagai filsuf paling gelap dalam sejarah filsafat Barat. Walau seorang pesimis tulen, ia mencintai kehidupan sehingga bunuh diri ditolak jauh-jauh. Atas sikapnya itu, Tock si penyair, seperti dikutip dari cerpen Kappa, mengejek Schopenhauer sebagai “seorang pesimis yang tidak bunuh diri” (Akutagawa 2008, 91).[1] Penolakan Schopenhauer tentu memiliki alasan, tetapi subjek ini perlu ruang analisis tersendiri. Untuk saat ini kita cukup membahas soal penderitaan.

Hidup, bagi Schopenhauer, adalah untaian panjang penderitaan,  kebahagiaan hanya intermezzo yang berpuncak pada kesia-siaan total, yaitu kematian. “Hidup bagai rangkaian kecelakaan kereta tanpa akhir, dengan sedikit kebahagiaan sebagai pariwara,” kata Deadpool memparafrasakan apa yang pernah dikatakan sang filsuf. Kehendak adalah akar dari segala derita.[2]

Esensi sejati manusia, menurut Schopenhauer, bukan subjek berpikir dan mengetahui, melainkan subjek menghendaki (will). Pikiran hadir murni untuk melayani kepentingan kehendak. Ia sekunder.[3] Kehendak adalah yang utama karena tidak hanya menghendaki dan memutuskan dalam artian yang sempit, tetapi juga dalam artian luas, seperti pada semua perjuangan, keinginan, pengelakan, harapan, ketakutan, kerinduan, cinta, dan benci. Pendeknya, semua yang menyusun kebahagiaan dan duka cita, hasrat dan keengganan, adalah pengaruh dari kehendak, yang mewujud dalam tindak menghendaki dan tidak menghendaki (Schopenhauer 1966, 202). Kehendak yang terpenuhi disebut sebagai kepuasaan—atau dengan kata lain, kebahagiaan. Sementara itu, rintangan yang menghalangi pemenuhan hasrat disebut penderitaan. Harapan yang tak sampai adalah sumber derita—yakni rasa kecewa. Kebahagiaan dan penderitaan bervariasi dalam derajat dan jenis, tetapi semua dapat dilacak kembali pada pengaruh menghasrati dan tidak menghasrati, yakni pada kehendak yang menyadari dirinya dalam keadaan terpuaskan atau tidak terpuaskan (Schopenhauer 1969, 309).

Kehendak tidak memiliki tujuan akhir. Ia tidak pernah berhenti menghasrati. Usaha terus menerus adalah hakikat tunggalnya sehingga tidak ada tujuan tertinggi yang dapat tersematkan. Setiap kepuasaan pada saat yang sama adalah titik pangkal usaha pemenuhan yang baru. Tujuan yang tercapai dengan sendirinya melahirkan hasrat-hasrat segar. Keinginan baru berarti penderitaan baru. Mewujudkan hasrat tidak pernah mudah. Semakin tinggi keinginan, semakin sulit pemenuhannya semakin menyakitkan pula rasanya. Bila gagal, kita kecewa. Namun bila terwujud, bahagia hanya numpang mampir. Setelah itu muncul kebosanan. Dalam konteks inilah penderitaan dan kehendak itu menjadi penting. Mereka tak selalu buruk. Keduanya memiliki kegunaan. Bayangkan bila dunia adalah surga di mana susu dan madu mengaliri setiap daratan, daging-daging terpanggang dengan sendirinya, miras keluar dari setiap pancuran, uang hanya perlu dipetik, bidadari-bidadara selalu setia menunggu di ranjang, dan kemasyhuran dapat diraih hanya dengan tidur-tiduran, maka manusia akan mati kebosanan. Penderitaan yang berakar pada kehendak tidaklah terasa menyenangkan, tetapi ia diperlukan untuk membuat hidup senantiasa menarik. Setelah kebosanan melanda, lekas tunas-tunas kehendak bermunculan dengan sendirinya—demikianlah terus-menerus.

Presiden adalah jabatan pamungkas yang didamba setiap politisi. Merangkak dari jabatan wali kota, seorang politisi mengeluarkan segala daya upaya menjadi gubernur. Ia berhasil. Bidikan selanjutnya adalah kursi presiden, dan lagi-lagi ia sukses sebuah pencapaian luar biasa. Kebahagiaan pun tercapai. Setelah kekuasaan terkonsolidasi, jemu segera memburu, apalagi ia tahu tidak ada jabatan lebih tinggi yang bisa diraih. Ia butuh tujuan baru. Oleh karena itu, semasih memegang kekuasaan, ia mulai mengusahakan anak dan menantu untuk masuk ke dalam lingkar kekuasaan dan membentuk dinasti politik. “Perjuangan” si politisi pasti melelahkan, penuh tantangan, caci maki, rasa sakit, dan derita.

“Menghendaki dan mengupayakan dapat dibandingkan dengan dahaga yang tak terpuaskan. Basis dari semua kehendak adalah kebutuhan, kekurangan, dan dengan kata lain rasa sakit yang padanya sebagai konsekuensi ia menjadi mangsa secara asali sekaligus melalui hakikatnya. Apabila ia kehabisan objek pemenuhan, sebab pemuasan yang terlalu mudah mengambil objek tersebut kembali darinya, kekosongan yang teramat mengerikan dan kebosanan akan menghampirinya […] Karenanya hidup berayun persis layaknya pendulum, kesana dan kemari, di antara penderitaan dan kebosanan […] Hal ini harus diungkapkan secara sangat asing juga melalui fakta bahwa setelah manusia telah memindahkan seluruh penderitaan dan kebosanan ke neraka, tak ada yang kini tersisa di surga selain kebosanan” (Schopenhauer 1969, 312)

Contoh lain adalah pengumpulan harta. Uang bila dikejar sebagai tujuan itu sendiri tak akan memiliki batas karena kehendak manusia juga tak terbatas. Selama masih mampu, hartawan akan bisa mengumpulkan kekayaan sebanyak apapun. Pencinta uang awalnya menganggap jumlah sekian akan mampu memberinya kepuasan. Segera setelah jumlah tersebut tercapai, yang muncul justru ketidakbahagiaan. Target awal tampak sangat kuno, kurang ambisius, dan harus dikesampingkan sebagai ilusi. Diperlukan penetapan sasaran baru yang lebih tinggi, lagi, dan lagi. Proses ini berulang terus-menerus karena tidak ada batasan. Berbeda kasusnya jika uang dikembalikan pada esensi sejatinya, yakni sebagai alat transaksi untuk memperoleh barang atau kebutuhan yang tidak dapat diperoleh melalui pertukaran langsung. Maka dari itu ia akan menjadi terbatas, seperti kata Aristoteles dalam Politic, tujuan itu sendiri membentuk watas. Pergeseran makna uang dari sarana menuju tujuan membuat hidup kian susah. Dalam alam pemujaan terhadap harta benda, segalanya diukur dan dinilai berdasarkan uang—nyaris segalanya membutuhkan uang. Oleh karena itu, mereka yang miskin dan tersisihkan adalah yang paling sengsara.

Kehidupan, menurut Schopenhauer, sama sekali tidak menampilkan dirinya sebagai hadiah untuk dinikmati, tetapi sebagai tugas—pekerjaan yang membosankan untuk dikerjakan. Produktivitas adalah segalanya. Konsekuensinya adalah pengerahan tenaga tanpa henti, tekanan konstan, perselisihan tanpa akhir, serta aktivitas yang dipaksakan dengan pengerahan kekuatan tubuh dan mental yang ekstrem. Jutaan manusia bersatu dalam sebuah bangsa dan berjuang untuk kebaikan bersama—dari masing-masing individu demi kepentingannya sendiri—tetapi dalam perjuangan yang seringkali gagal itu jutaan manusia dikorbankan. Raja dan jenderal yang haus kejayaan menjerumuskan orang-orang untuk saling membantai satu sama lain. Sejarah umat manusia adalah sejarah peperangan, penaklukan, dan perlawanan. Tak terkira pula jumlah orang yang terbunuh demi sebuah gagasan. Tak sedikit juga yang dibunuh oleh negara, yang semestinya melindungi warganya. Di balik setiap kematian selalu ada duka yang menggerogoti jiwa-jiwa mereka yang ditinggalkan. Rasa sakit kehilangan muncul dari kesenjangan antara yang dihasrati (selalu bersama dengan orang tercinta) dengan kenyataan yang berbeda (kepergian orang-orang terkasih).

Hewan juga menderita, tetapi rasa sakit manusia jauh lebih meremukkan. Karena manusia memiliki kemampuan berefleksi, menyimpan memori, dan pandangan ke masa yang akan datang, trauma masa lalu dan kecemasan dapat sangat menyiksa. Ambisi, keinginan untuk dihormati, menjadi hebat, dan rasa malu, membuat kesengsaraan menjadi berlipat-lipat. Pada binatang, penderitaan semacam ini absen sama sekali. karena hasrat-hasratnya hanya mencakup makanan, reproduksi, dan tempat bernaung.

Berdasar argumen-argumen di atas, Schopenhauer lantas menyimpulkan bahwa penderitaan memiliki kualitas positif dalam kehidupan. Sementara kebahagiaan, keadaan sejahtera, dan rasa puas memiliki karakter negatif, yakni kebebasan sementara dari rasa sakit, yang merupakan elemen positif dari eksistensi (Schopenhauer 2015, 943). Dengan demikian, keadaan utama manusia senantiasa berada dalam dekap sengsara. Kepuasaan hanya jeda dari derita. Artinya, proporsi penderitaan jauh melebihi kebahagiaan. Tidak peduli seberapa besar usaha kita untuk bahagia, semua akan sia-sia. Semakin bertambah tua, kita semakin menyadari bahwa hidup adalah rentetan kekecewaan. Hidup seperti tajen (sabung ayam): harapan menang (bahagia) ada; tapi kalah (menderita) sudah hampir pasti. Oleh karena itu tak heran bila Schopenhauer menilai kehidupan sebagai “bisnis yang hasilnya jauh dari biaya yang dikeluarkan” (Schopenhauer 1966, 353).

Ketiadaan tujuan akhir membuat segala penderitaan tak bermakna sama sekali.[4] Tak ada rencana ilahiah di balik setiap kemalangan yang mendera. Segala daya upaya kita untuk bertahan menghadapi segala mala bukan bertujuan menciptakan kerajaan Tuhan di Bumi, bukan pula tiket menuju kehidupan akhirat yang penuh kebahagiaan surgawi, tetapi hanya ekspresi dari will to live, yakni kehendak untuk mempertahankan hidup dan tidak lebih. “Hidup tidaklah lebih dari ilusi, seperti seorang aktor yang selalu merasa cemas dengan waktunya di atas panggung dan tak pernah mendengar apapun lagi darinya. Hidup hanyalah kisah yang diceritakan oleh para idiot, penuh dengan kekacauan, dan gangguan tanpa memiliki makna apa pun,” kata Macbeth (Shakespeare 2017, 145). Secara inheren, kehidupan tidak memiliki makna apapun. Setiap bentuk makna yang disematkan adalah konstruksi pikiran manusia. Konstruksi tersebut tidak lebih dari sebuah fiksi. Tak ada bukti bahwa keberadaan semesta memiliki makna. Kalaupun ada, kita tak akan pernah tahu. Eksistensi adalah kesia-siaan. Saking tak bermaknanya kehidupan, Schopenhauer menganggap tujuan utama yang mesti digapai setiap individu adalah mengetahui bahwa “akan lebih baik bagi kita untuk tidak pernah dilahirkan” (Schopenhauer 1966, 605).

Bila sudah terlanjur terlahir, pertanyaannya lalu adalah “apakah tidak ada jalan pembebasan yang mungkin?” Schopenhauer menjawab, “ada”. Namun, rute ini hanya bisa dilalui oleh orang-orang suci. Pembebasan hanya mungkin melalui asketisme yang di dalamnya termasuk hidup selibat, menahan kemiskinan, pengendalian emosi tingkat tinggi, dan penuh kebajikan untuk melepaskan diri dari perbudakan kehendak, sebab ia merupakan asal dari segala derita. Bukan kebahagiaan yang dituju, tetapi kedamaian dan ketenangan batin. Jalan ini jelas terlalu sulit bagi kebanyakan orang. Bagi manusia pada umumnya, hal yang paling mungkin untuk dilakukan hanya meringankan penderitaan, bukan mencapai pembebasan. Caranya adalah dengan menetapkan tujuan yang sulit atau mustahil untuk dicapai, tetapi di saat yang bersamaan harus terus diupayakan. Dengan demikian, kondisinya selalu ada dalam transisi konstan dari hasrat menuju kepuasan. Meski sengsara tak sirna, setidaknya gairah senantiasa bergelora.

Cara selanjutnya adalah dengan menerapkan laku penuh kasih. Menurut Schopenhauer, segala yang  dunia perlihatkan bersumber dari substratum metafisik yang satu, thing-in-itself (yang juga ia namai will). Baginya, semesta adalah satu kesatuan yang tunggal. Orang Arya di India memiliki ungkapan yang bagus tentang hal ini, yakni tat tvam asi. Seperti yang dijelaskan dalam pengantar Upanishads (Egenes 2015, 32), tat tvam asi secara harfiah berarti “itu adalah engkau”. Kata “itu” bermakna Brahman, yang merupakan sumber segala ada di dunia, termasuk Atman atau diri yang sejati. Semenjak Brahman meliputi segala yang ada di dunia, maka seluruh yang tampak di dunia berasal dari sumber tunggal yang sama. Oleh karena itu, sejatinya aku adalah engkau dan engkau adalah aku.

Arthur SBila kita menyakiti hewan dan orang lain, itu artinya kita sedang menyakiti diri sendiri, semenjak semua yang ada di dunia bersumber dari satu penopang inti yang sama. Rasa sakit yang kamu rasakan adalah rasa sakitku. Penderitaan kucing yang kelaparan adalah penderitaan kita juga. Sebaliknya, kesenanganmu adalah kesenanganku juga. Ini adalah empati tingkat tinggi.  Karena rasa sakit orang lain juga adalah rasa sakit kita, maka laku yang penuh kasih adalah jawaban. Bila mala memang harus selalu ada, maka setidaknya dengan tidak berlaku jahat dan saling mengasihi, kita dapat meringankan derita. Hidup tidak pernah mudah. Namun, pandemi berkepanjangan menghadirkan begitu banyak siksaan. Di masa sulit seperti ini, welas asih adalah hal yang kita butuhkan.


Catatan Akhir:

[1] Akutagawa sendiri bunuh diri di usia yang baru menginjak 35 tahun. Seperti ibunya yang mengidap sakit jiwa, ia terserang skizofernia yang membuatnya sering mengalami delusi dan halusinasi. Selain itu, ia juga mengalami sakit kepala luar biasa. Tersiksa secara mental dan fisik, Akutagawa memutuskan mengakhiri hidup dengan menenggak obat tidur secara berlebihan.

[2] Gagasan Schopenhauer serupa dengan ajaran sang Buddha yang memandang hidup penuh derita dan ketidakpuasan. Asal usul penderitaan terletak dalam hasrat dan keinginan sehingga penderitaan dapat dihentikan dengan memutus rantai kehendak (Nicholls 2006, 188).

[3] Menurut Schopenhauer, pikiran hadir sebagai akibat dari evolusi, sebagai ikhtiar menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan, yang didorong oleh kehendak untuk hidup dan melestarikan spesies. Berbeda dengan halnya dengan tanaman yang hanya menunggu untuk mendapatkan makanan, manusia perlu mencari dan menyeleksi makanan. Perburuan membutuhkan strategi dan trik yang harus diperbaharui terus menerus. Senjata yang efektif harus diciptakan (manusia tak seperti hewan pemangsa yang diperlengkapi instrumen membunuh yang mengagumkan). Perangkap yang licik harus dipasang. Musim-musim dingin yang  panjang harus disiasati. Makanan melimpah tak selalu tersedia, paceklik bisa datang kapan pun. Singkatnya, mencari dan mengawetkan makanan butuh kecerdasan. Begitu juga dengan perkara mencari pasangan yang membutuhkan banyak sekali kreativitas. Menarik hati lawan jenis adalah pekerjaan merepotkan. Tingkat persaingan begitu tinggi. Hanya yang terbaik yang bisa memperoleh pasangan kualitas jempolan. Menjadi terbaik butuh pengetahuan. Pada tahap ini pengetahuan secara niscaya diperlukan agar pelestarian individu dan perkembangbiakan spesies dapat terwujud. Oleh karena itu, kehendak adalah yang utama, pengetahuan sekunder. “Kehendak adalah substansi manusia, intelek adalah aksidensi; kehendak adalah materi, intelek formanya; kehendak adalah api, intelek cahayanya” (Schopenhauer WWR II 1966, 201.

[4] Sulit rasanya membayangkan bahwa semua rasa sakit dan penderitaan kita tak bermakna apa-apa. Hanya berakhir pada kematian yang sunyi. Doktrin kehidupan setelah kematian kemudian diafirmasi, guna memuaskan keyakinan banyak orang bahwa kehidupan yang penuh derita tidak sia-sia untuk dijalani. Schopenhauer menganggap bahwa orang-orang lebih mementingkan doktrin keabadian jiwa ketimbang eksistensi Tuhan. Seandainya bila doktrin kehidupan setelah kematian terbukti inkompatibel dengan eksistensi Tuhan, ia yakin orang-orang akan mengorbankan eksistensi Tuhan demi keabadian jiwa (Schopenhauer 1966, 162).


Referensi

Akutagawa, Ryunosuke. 2008. “Kappa” dalam Rashomon (kumcer). Jakarta: KPG.

Aristoteles. 2017. Politic diterjemahkan oleh Saut Pasaribu. Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea.

Egenes, Thomas. 2015. “Introduction” in The Upanishads. New York: An Imprint of Penguin Random House.

Nicholls, Moira. 2006. “Influence of Eastern Thought on Schopenhauer’s Doctrine of the Thing-in-Itself” in (Christopher Janaway ed.) Cambridge Companion to Schopenhauer. Cambridge: Cambridge University Press.

Shakespeare, William. 2017. Macbeth diterjemahkan oleh Fatimah. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Schopenhauer, Arthur. 1969. The World As Will and Representation volume 1 translated by E. F. J. Payne. New York: Dover Publications, Inc.

_____. 1966. The World As Will and Representation volume II translated by E. F. J. Payne. New York: Dover Publications, Inc.

_____. 2015. Parerga and Paralipomena volume II translated by Del Caro Adrian and Christopher Janaway. Cambridge: Cambridge University Press.

Facebook Comments

Author