Cina merupakan salah satu dari tiga negara selain Vietnam dan Laos yang mampu mempertahankan kediktatoran partai sekaligus berupaya untuk menyejahterakan masyarakat. Dari ketiga negara tersebut hanya Cina yang mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat hingga mampu menyalip perekonomian Amerika Serikat.[1] Mencuatnya Cina sebagai salah satu negara dengan perekonomian yang maju memunculkan pertanyaan. Apakah Cina masih menganut ideologi sosialisme dalam kerangka besar Marxis-Leninisme? Di satu sisi orang beranggapan bahwa Cina telah melepas ideologi sosialisme dalam kerangka besar Marxis-Leninisme dan beralih kepada kapitalisme. Di sisi lain, juga terdapat orang-orang yangberanggapan bahwa Cina masih berpegang pada ideologi sosialisme dalam kerangka besar Marxis-Leninisme dengan  karakteristik Cina.

Anggapan bahwa Cina telah menjadi kapitalis apalagi setelah kepemimpinan Mao Zedong didukung dengan beberapa karakteristik. Dalam bukunya yang berjudul “The Battle for Chinas Past Mao and The Cultural Revolution” [2], Mobo Gao menyebutkan ada empat karakteristik dari kapitalisme Cina. Pertama, munculnya stratifikasi sosial. Ketika zaman Mao tidak ada kelas elite bisnis dan ekonomi. Namun, pasca kepemimpinan Mao kelas elite ini mulai bertumbuh. Pertumbuhan kelas elite ini didukung oleh ungkapan Deng Xiaoping, “biarkan beberapa orang menjadi kaya dulu”.[3] Kedua, adanya pengurangan pemberian jaminan sosial bagi masyarakat perkotaan. Masyarakat perkotaan mulai membayar biaya pendidikan maupun kesehatan yang dulunya gratis bagi mereka. Ketiga, perusahaan swasta mulai melakukan ‘perampasan tanah’ dengan biaya kompensasi sedikit atau bahkan tanpa biaya kompensasi. Keempat, pengabaian lingkungan. Mobo menyebutkan bahwa ini terjadi secara tidak sadar. Dalam kurun waktu 1980-an hingga 1990-an telah terjadi pengabaian lingkungan hidup yang hampir total, baik itu disengaja maupun tidak disengaja.

Di sisi lain, anggapan bahwa Cina bukan kapitalis tampak dalam gagasan yang diinisiasi oleh Deng Xiaoping, yakni narasi ideologi ‘sosialisme dengan karakteristik Cina’. Gagasan ini ia ungkapkan ketika Kongres Partai Komunis Cina ke-12 pada bulan Oktober 1987. Gagasan ini yang kemudian menjadi narasi ideologi Partai hingga kini. Xi Jinping juga mengungkapkan dalam pidatonya saat Kongres Partai Komunis ke-19 pada bulan Oktober 2017 dengan mengusung narasi ideologi sosialisme dengan karakteristik Cina untuk era baru. Dengan demikian, Cina tidak meninggalkan jalur sosialisme dalam kerangka besar Marxis-Leninisme. Artikel ini akan melihat proses perjalanan Cina dalam memperjuangkan visi ideologinya.

Mao Zedong: Demokrasi Baru

Visi Ideologi Negara Republik Cina berawal sejak era Mao Zedong. Ia melihat situasi masyarakat Cina pada waktu itu sebagai masyarakat feodal sejak Perang Candu 1840.[4] Kemudian, Cina secara bertahap berjalan menuju ke masyarakat semi-kolonial dan semi-feodal. Para imperialis (kapitalis internasional) berupaya untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan penting untuk perdagangan. Mereka juga menjadikan para tuan tanah sebagai sekutu utama untuk menguasai Cina. Dengan kata lain, para imperialis ini telah memberi ruang yang besar bagi para tuan tanah––kaum penghisap utama di Cina––untuk melakukan eksploitasi yang lebih besar lagi.

Situasi tersebut telah menginspirasi Mao untuk memperjuangkan apa yang telah menjadi cita-cita utamanya. Cita-cita tersebut adalah pembebasan Cina dari imperialisme dan kapitalisme serta menciptakan Cina yang mulia.[5] Melalui sosialisme dalam kerangka besar Marxis-Leninisme, Mao berusaha untuk melawan hegemoni kapitalisme global serta berupaya untuk mengembalikan kedaulatan Cina. Secara perlahan-lahan Mao melancarkan perang revolusionernya.

Yung Ping Cheng dalam bukunya yang berjudul “Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-chi”[6] menyebutkan adanya tiga perang revolusioner yang menjadi prioritas Mao untuk mencapai masyarakat demokrasi baru. Perang Revolusioner Pertama (1924-27) menjadikan para tuan tanah atau kelas penghisap sebagai target utama. Pada Perang Revolusioner Kedua (1927-37), Mao menjadikan kelompok borjuasi dan sebagian kelompok nasional borjuasi sebagai target utama karena mereka telah bergabung dengan kekuatan feodal dan kolonial. Pada tahun 1937, pecahnya perang dengan Jepang membuat Mao menargetkan imperialisme Jepang dan para pengkhianat yang mendukung Jepang sebagai musuh bagi rakyat Cina. Mao berkata “Sejak invasi militer Jepang ke Cina, musuh utama rakyat Cina adalah imperialisme Jepang, dan pengkhianat yang telah menyerah secara terbuka kepada Jepang, serta mereka yang bersiap-siap untuk menyerah kepada Jepang”.[7] Pada Perang Revolusioner Ketiga, Mao mulai menjadikan imperialisme Amerika, kapitalisme birokrasi yang diwakili oleh Chiang Kai-shek, dan feodalisme sebagai musuh utama rakyat.

Melalui Partai Komunis Cina, ada dua tujuan utama yang perlu dicapai untuk keluar dari masyarakat semi-feodal dan semi-kolonial. Mao menyebutnya sebagai ‘tujuan maksimum’ dan ‘tujuan minimum’. Tujuan minimum adalah program ‘demokrasi baru’ dan tujuan maksimum adalah sosialisme.[8] Mao berkata, “Cina di bawah kepemimpinan kelas pekerja dan Partai Komunis, dapat berkembang dari negara agraris menuju ke negara industri; dan dari demokrasi baru menuju ke sosialisme,  dan pada akhirnya masyarakat komunis dengan menghilangkan kelas dan mewujudkan harmoni universal”[9]. Dengan kata lain, jalur yang ditempuh Cina untuk lepas dari masyarakat semi-feodal dan semi-kolonial adalah melalui fase demokrasi baru menuju ke sosialisme hingga akhirnya mencapai masyarakat komunis.

Pada permulaan 1958, Partai di bawah kepemimpinan Mao melancarkan kampanye ‘Loncatan Besar Ke Depan’ untuk melipatgandakan produksi industri dan produksi.[10] Akan tetapi, kampanye ini justru menjadi malapetaka bagi Cina. Franz Magnis menyebutkan bahwa malapetaka tersebut diakibatkan oleh ketidaksesuaian data dan fakta di lapangan berkaitan dengan produksi pertanian serta tidak bergunanya produksi baja.[11] Peristiwa ini mengakibatkan Mao mengundurkan diri dari jabatannya di Partai.

Setelah mundurnya Mao dari kursi kepemimpinan Partai, Cina di bawah kepemimpinan Liu Shaoqi sebagai Presiden dan Deng Xiaoping sebagai Sekretaris Partai mereformasi kebijakan, terutama di bidang pertanian dengan menginisiasi pertanian swasta guna melengkapi pertanian komunal. Tujuan utamanya adalah untuk menstabilkan perekonomian Cina setelah kegagalan kampanye ‘Loncatan Besar ke Depan’. Tindakan Liu dan Deng ini justru dilihat oleh Mao sebagai upaya untuk menciptakan kembali kelas kapitalis dan para tuan tanah. Oleh karena itu, Mao mencetuskan Revolusi Kebudayaan sebagai sarana untuk melancarkan kritiknya terhadap Partai sekaligus menyingkirkan semua lawan Mao di dalam Partai.[12] Gerakan ini berahkir ketika Mao wafat pada 1976.

Deng Xiaoping: Sosialisme Dengan Karakteristik Cina

Setelah kematian Mao, Cina dipimpin oleh Deng Xiaoping. Dalam salah satu pidatonya yang berpengaruh, Deng memaparkan empat prinsip utama (jiben yuanze).[13] Keempat prinsip tersebut adalah (1) jalan sosialis, (2) kediktaktoran kaum proletar, (3) kepemimpinan Partai Komunis, dan (4) pemikiran Marxisme-Leninisme dan Mao Zedong. Selain itu, Deng juga menyatakan dalam beberapa area, Cina harus belajar dari negara kapitalis.[14] Dari keempat prinsip utama tersebut, tampak bahwa Deng tetap berpegang pada visi Mao untuk menjadikan Cina sebagai negara sosialis dan akhirnya sampai pada negara komunis. Peristiwa kelam pada akhir era Mao dimaknai oleh Deng sebagai kesalahan serius sekaligus kemunduran negara sosialis yang disebabkan oleh Lin Biao dan Geng Empat. Kemunduran ini tidak berarti bahwa sosialisme adalah masalah bagi Cina. Ia tetap menyadari bahwa revolusi sosialis telah mempersempit jarak dengan negara kapitalis. Selain itu, ia tidak menyalahkan Mao atas peristiwa kelam tersebut guna menjaga ‘nama besar Mao’.

Kembali ke visi Mao, seperti yang diungkapkan oleh Yung Ping Cheng, gagasan mengenai ‘demokrasi baru’ ala Mao merupakan transformasi dari negara semi-kolonial dan semi-feodal menuju ke masyarakat sosialis tanpa melalui fase kapitalistik.[15] Hal ini sudah dipastikan berlawanan dengan prediksi Marx bahwa sosialisme muncul dari ambruknya kapitalisme. Dengan kata lain, sosialisme dapat terwujud setelah melalui fase kapitalistik. Meskipun pada akhirnya prediksi Marx ini tidak pernah terwujud,  tetapi Mao memilih menghilangkan fase tersebut. Fase yang hilang ini, nantinya akan mulai dirancang pada era Deng. Ia merencanakan perluasan pasar dan memulai reformasi di pelbagai area, seperti industri, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan pendidikan.[16] Ia membuat sebuah kerangka ideologi untuk mendukung rencananya ini melalui terminologi ‘sosialisme dengan karakteristik Cina’. Gagasan ini mendapatkan status legitimasinya pada Kongres Partai Komunis ke-12 pada tahun 1982. [17]

Sosialisme dengan karakteristik Cina merupakan sebuah ideologi yang berupaya untuk memasukkan unsur kapitalisme ke dalam perencanaan pusat guna mendorong produktivitas, mengembangkan budaya Tiongkok, dan meningkatkan kepentingan masyarakat.[18] Kapitalisme yang dimaksud oleh Deng adalah kapitalisme yang diatur oleh negara. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Ken Moak, negara kapitalis ala Cina menganut sistem ekonomi pararel di mana perusahaan swasta dan perusahaan negara hidup berdampingan.[19] Akan tetapi, sektor-sektor penting, seperti sektor telekomunikasi, gas, energi, minyak, dan transportasi masih menjadi wilayah milik negara. Guna mengimplementasikan narasi ideologi ‘sosialisme dengan karakteristik Cina’, Deng menjalankan serangkaian kebijakan, seperti reformasi di bidang agraria, reformasi pasar pedesaan, mengirim orang-orang terbaik Cina untuk menempuh pendidikan di luar negeri, dan pembentukan zona ekonomi spesial.

Gagasan mengenai sosialisme dengan karakteristik Cina pada akhirnya menjadi narasi ideologi dalam Partai Komunis. Gagasan ini tidak berhenti di era Deng Xiaoping saja, melainkan terus dipertahankan hingga kini. Hu Jintao dalam pidatonya pada kongres Partai Komunis Cina ke-17 menekankan mengenai pentingnya sosialisme dengan karakteristik Cina dalam menuntun pembangunan, persatuan, dan kemajuan Cina kontemporer. Ia mengartikan gagasan tersebut sebagai berikut,

“Kita akan berada di bawah Partai Komunis Cina dan dalam terang kondisi dasar Cina, mengambil pembangunan ekonomi sebagai tugas utama, dengan mematuhi empat prinsip utama dan bertekun dalam reformasi dan keterbukaan, melepaskan dan mengembangkan kekuatan produksi, mengonsolidasikan dan meningkatkan sistem sosialis, mengembangkan sistem ekonomi pasar sosialis, demokrasi sosialis, budaya sosialis yang maju dan masyarakat sosialis yang harmonis, dan membuat Cina menjadi negara sosialis yang makmur, kuat, demokratis, maju secara budaya dan harmonis”. [20]

Dengan demikian, Hu Jintao mengikuti jalur yang telah dibuat oleh Deng Xiaoping dengan memasukkan unsur kapitalisme untuk merangsang produktivitas yang ia sebut sebagai ‘membuat kue yang lebih besar’. Selain itu, Partai sebagai representasi dari penjaga nilai inti sosialis menjamin agar kue yang lebih besar tersebut dibagi, sehingga setiap orang memperoleh bagian yang lebih besar.

Pada Era Xi Jinping ia juga menegaskan mengenai sosialisme dengan karakteristik Cina pada era baru. Gagasan ini diangkat oleh Xi pada Kongres ke-19 Partai Komunis Cina. Gagasan ini masih satu kesatuan dengan Marxis-Leninisme, pemikiran Mao Zedong, Teori Deng Xiaoping, Teori Tiga Mewakili, dan pandangan ilmiah tentang pembangunan.  Xi Jinping memberikan penekanan pada aspek era baru dalam gagasan tersebut. Hal ini memberikan pengaruh politik bagi Xi sebagai arsitek dari visi baru yang berani untuk masa depan Cina. [21] Selain itu, klaim ‘era baru’ secara linguistik menurut Heike Holbig ditetapkan dalam tiga frasa kata kerja yang ia lihat dalam pidato Xi, yakni standing up, growing rich to getting strong.[22] Xi melihat secara historis adanya kebangkitan sejarah, yakni dari berdirinya Cina, bertumbuh menjadi kaya, dan menjadi lebih kuat. Tahap pertama merepresentasikan masa kepemimpinan Mao (1949-1976) saat berdirinya Cina sebagai negara komunis. Kemudian, bertumbuh menjadi kaya adalah perjuangan Deng Xiaoping untuk melakukan reformasi dan keterbukaan (1978). Kini, pada Era Xi Jinping, saatnya bagi Cina untuk menjadi lebih kuat guna mencapai bentuk negara sosialis yang modern.

Baik Mao Zedong maupun Deng Xiaoping, tetap menginginkan Cina menjadi masyarakat komunis. Namun, secara historis dapat dilihat bahwa jalan yang ditempuh oleh keduanya berbeda. Melalui demokrasi baru, Mao menolak unsur-unsur kapitalisme, sedangkan Deng melalui ‘sosialisme dengan karakteristik Cina’ berupaya untuk mengakomodasi kapitalisme. Oleh karena itu, pandangan Mobo Gao pada bagian awal teks ini yang menyebut bahwa Cina telah menjadi negara Kapitalis, kurang tepat. Unsur kapitalisme yang tampak di Cina harus dilihat dalam konteks skema besar perjalanan Cina menuju masyarakat komunis. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa visi Ideologi Negara Republik Rakyat Cina adalah mencapai masyarakat komunis melalui serangkaian tahap, yakni masyarakat semi-feodal dan semi-kolonial-demokrasi baru-sosialisme dengan karakteristik Cina––masyarakat sosialis––masyarakat komunis.


Catatan Akhir:

[1] Dalam riset yang dilakukan oleh Mckinsey & Company menyebutkan bahwa Cina telah melampaui Amerika Serikat untuk menjadi negara terkaya tunggal di dunia dalam hal total kekayaan bersih. Lih. Syarifudin, Rabu, 17 November 2021. Jadi Negara Terkaya Dunia, Ekonomi China Resmi Salip AS. IDX Chanel.com,  https://www.idxchannel.com/economics/jadi-negara-terkaya-dunia-ekonomi-china-resmi-salip-as. Diakses pada 8 Desember pkl 14.00

[2] Mobo Gao, The Battle for Chinas Past Mao and The Cultural Revolution (London: Pluto Press, 2008), p 186-188

[3] Mobo Gao, The Battle for Chinas Past Mao and The Cultural Revolution, p 186

[4] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition (The Hague: Martinus Nijhoff, 1971), p 25

[5] Franz Magnis-Suseno, Dari Mao Ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, p 99

[6] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition, p 43-44

[7] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition, P 44

[8] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition, p 56

[9] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition, p 65

[10] Franz Magnis-Suseno, Dari Mao Ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, p 96

[11] Franz Magnis-Suseno, Dari Mao Ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, p 97

[12] Franz Magnis-Suseno, Dari Mao Ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin, p 98

[13] Ezra F Vogel, Deng Xiaoping and the Transformation of China (Massachusetts: Harvard University Press, 2011) p262

[14] Ezra F Vogel, Deng Xiaoping and the Transformation of China, p 262

[15] Yung Ping Cheng, Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition p108

[16] Ezra F Vogel, Deng Xiaoping and the Transformation of China p 265

[17] Arif Dirlik, “Postsocialism? Reflections on “socialism with Chinese characteristics”. Bulletin of Concerned Asian Scholars 21:1, (1989), p 35

[18] Ken Moak and Miles W. N. Lee, China’s Economic Rise and Its Global Impact. (New York: Palgrave Macmillan, 2015), p 91

[19] Ken Moak and Miles W. N. Lee, China’s Economic Rise and Its Global Impact, p 93

[20] Wu Yuanglian, Socialism with Chinese characteristics in a comparative vision, Social Sciences in China

Vol. XXIX, No. 2 (2008), p 47

[21] Heike Holbig, China after Reform: The Ideological, Constitutional, and Organisational Makings of a New Era, in: Journal of Current Chinese Affairs, 47, 3 (2018), p 193

[22] Heike Holbig, China after Reform: The Ideological, Constitutional, and Organisational Makings of a New Era, p 193


DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Gao, Mobo. 2008. The Battle for Chinas Past Mao and The Cultural Revolution. London: Pluto Press.

Magnis-Suseno, Franz. 2013. Dari Mao Ke Marcuse Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moak, Ken and Miles W. N. Lee. 2015. China’s Economic Rise and Its Global Impact. New York: Palgrave Macmillan.

Ping Cheng, Yung. 1971. Chinese Political Thought Mao Tse-Tung and Liu Shao-Chi Second Edition. The Hague: Martinus Nijhoff.

Vogel, Ezra F. 2011. Deng Xiaoping and the Transformation of China. Massachusetts: Harvard University Press.

JURNAL ILMIAH

Dirlik, Arif. 1989. “Postsocialism? Reflections on “socialism with Chinese characteristics”. Bulletin of Concerned Asian Scholars 21:1.

Holbig, Heike. 2018. China after Reform: The Ideological, Constitutional, and Organisational Makings of a New Era, in: Journal of Current Chinese Affairs, 47, 3.

Yuanglian, Wu. 2008. Socialism with Chinese characteristics in a comparative vision, Social Sciences in China Vol. XXIX, No. 2.

ARTIKEL ONLINE

Syarifudin, Rabu, 17 November 2021. Jadi Negara Terkaya Dunia, Ekonomi China Resmi Salip AS. IDX Chanel.com, https://www.idxchannel.com/economics/jadi-negara-terkaya-dunia-ekonomi-china-resmi-salip-as. Diakses pada 8 Desember pkl 14.00.

Facebook Comments
Author Profile

Seorang mahasiswa Pasca-Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara angkatan 2021; sedang mendalami perihal Ideologi dan Politik RRC.