“Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari,” semoga kalimat tersebut tidak lagi mengejutkan kita. Saya sepakat bahwa singkatnya dan ketidakpastian hidup adalah hal yang sangat mengganggu pikiran kita. Para filsuf mungkin sudah membuang banyak waktunya untuk menjelaskan kematian, namun bak agama—itu tak lebih dari sekadar opium semata; fakta kematian masih terus berjalan, dan ketakutan tak pernah hilang dalam benak sebagian besar manusia selama ribuan tahun.
Ada saat di mana kematian menghantam kita tanpa terduga; saat kita mungkin sedang asik bermain game favorit kita, atau ketika kita sedang bersama pasangan kita, yang mana dalam waktu tak terduga—jantung kita sekonyong-konyong berhenti berdetak begitu saja, dan kita mulai masuk di masa-masa kritis yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ini adalah gambaran betapa kematian begitu dekat dan bisa datang kapan saja, sekalipun kita tidak menginginkannya. Kematian yang begitu dekat menunjukkan kelemahan hidup manusia. Bahkan berbicara tentang kematian seperti sekarang pun, cukup untuk membawa kita pada perenungan terakhir kita.
Teror kematian seolah merembes masuk ke bagian terdalam diri kita. Kepastian dan ketidaktahuan kita kapan itu terjadi membuat kita merasa kecil dan tak berdaya. Ini adalah bentuk kutukan kematian pada taraf eksistensial, yang berada di bawah gagasan bahwa ia sudah menjadi bagian dari diri kita; bagian tergelap yang cukup untuk mengubah kita dari benda hidup dengan segudang kekayaan, menjadi benda mati dengan segudang kenangan. Mungkin tak ada pukulan yang lebih menyakitkan dalam hidup kecuali kematian, karena menurut saya masih ada banyak kehidupan yang pantas untuk dijalani, dan terlalu menyakitkan untuk direnggut. Lazimnya, cara terbaik untuk mengatasi hal ini menurut para filsuf adalah dengan merenungkan atau mematut-matutkan ketidakhadiran kita di masa depan nanti. Semua aliran filsafat kuno seperti Epikurean, Skeptisisme, dan Stoikisme menganggap ketakutan akan kematian sebagai sesuatu yang tidak rasional dan mereka menggunakan filsafat untuk melawan ketakutan itu.
Sementara sebagian yang lain berpandangan bahwa, jika manusia ingin berbahagia, bukan hanya ketakutan akan kematian saja yang perlu dilawan, tetapi juga kematian itu sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pendiri PayPal, Peter Thiel, “daripada menerima kematian, lebih baik melawannya.” Namun, jangan berharap lebih. Ini juga masih merupakan perkiraan dan usaha manusia selama berabad-abad. Pada abad ke-21 ini, manusia akan melakukan upaya yang serius untuk menuju—dengan apa yang oleh Harari sebut sebagai—imortalitas .
Upaya untuk mengatasi kematian nampaknya sudah menjadi agenda tersembunyi umat manusia. Para filsuf mungkin menggelengkan kepalanya ketika mengetahui agenda yang nampak kekanak-kanakan ini, karena mereka lebih suka menggunakan istilah mengatasi ketakutan akan kematian, alih-alih mengatasi kematian itu sendiri. Namun, itulah dua hal menarik yang perlu untuk dikaji oleh filsafat dan sains dalam membedah persoalan kematian: cara mengatasi ketakutan akan kematian dan, atau yang paling binal, cara menanggulanginya.
Epikuros dan Kematian
Mengatasi ketakutan akan kematian adalah hal yang umum dilakukan oleh para filsuf selama ratusan tahun, karena para filsuf menilai kematian sebagai sebuah realitas yang cukup untuk membuat bulu kuduk kita bergidik dan jelas merupakan fakta mengerikan yang mustahil untuk dihindari. Namun, bukan berarti mengatasi ketakutan kita akan kematian menjadi hal yang mustahil untuk dilakukan. “Ini hanya tentang pikiran kita,” kata Epikuros. Menurutnya, tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan atau yang ia istilahkan dengan ‘ataraxia’. Dan dalam konteks untuk menjamin kebahagiaan kita dan juga mengantisipasi ketidakbahagiaan kita, Epicuros percaya bahwa ketakutan akan kematian perlu untuk ditanggulangi dan seharusnya dipahami terlebih dahulu. Karena seperti kata adagium tua: “ketakutan berawal dari ketidakpahaman.”
Epikuros dan pengikutnya menyatakan bahwa ketakutan akan kematian mengancam agenda filsafat mereka, yaitu mencapai kebahagiaan, karena jika kekhawatiran atau ketakutan masih ada, maka kebahagiaan tidak akan pernah tercapai. Olehnya mereka ingin menunjukkan kepada kita mengapa ketakutan akan kematian itu adalah hal yang tidak berguna dalam usaha untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Menurut Epikuros, hal pertama yang harus dilakukan untuk mengatasi rasa takut kita akan kematian adalah mencoba untuk meyakinkan diri bahwa kita tidak akan bisa membayangkan bagaimana rasanya mati, karena toh kematian adalah ketiadaan keberadaan. Lebih kurang ia mengatakan seperti ini: “Kematian itu tidak perlu ditakuti; karena, ketika kita ada, dia tidak ada. Dan ketika ia ada, kita sudah tidak ada.” Jadi, secara harfiah, tidak ada yang bisa dibayangkan dari kematian, karena ketiadaan itu sendiri juga tidak dapat dibayangkan. Tidak ada perspektif dan tidak ada pandangan dari sebuah ketiadaan. Hal ini mungkan dapat membawa kita untuk bagaimana menenangkan kecemasan eksistensial kita.
Mari kita periksa, adakah alasan logis mengapa kematian itu bisa memicu sebuah ketakutan? Adalah logis jika kita takut pada hal-hal yang dapat melukai atau menyakiti tubuh fisik kita seperti pisau dan api; adalah logis untuk gelisah jika membayangkan di kemudian hari perang dunia akan kembali terjadi; dan adalah wajar jika kita menelan ludah dengan kekhawatiran tertentu ketika pacar kita berkata, “Ada yang harus kita bicarakan.” Itu semua adalah alasan wajar yang dapat membuat kita merasa takut atau khawatir, tapi apa alasan logis yang membuat kematian itu menjadi menakutkan?
Sayangnya, ketika saya memikirkan ini, saya menyadari bahwa keberhasilan cara ini sangat bergantung pada suasana hati saya. Tentu saya sangat menyukai gagasan yang menganjurkan kita untuk mengolah perasaan takut, seolah memikirkan gagasan filosofis seperti ini saja sudah cukup untuk memberikan saya keberanian. Namun, seperti yang ditekankan oleh filsuf kontemporer James Warren, bahwa argumen Epikuros harus diingat sebagai salah satu bagian dari “terapi kognitif” untuk menghadapi kehidupan, agar paling tidak kita dapat sedikit mengendalikan kekhawatiran kita.
Mamahami Kebahagiaan Tak Sesederhana Imortalitas
Cara yang kedua adalah melawannya. Cara yang nampak banal bagi seorang manusia yang kerdil. Gagasan keabadian atau imortalitas yang diimpikan oleh sains tersebut sesungguhnya berangkat dari ambisi antroposentrisme manusia—demi mencapai dua impian penting: kebahagiaan yang abadi dan keilahian. Menurut Harari, ide antroposentrisme seperti ini adalah prinsip utama dalam tradisi humanisme karena “manusia adalah hal yang utama,” dan bahwa keutamaan itu berada dalam kebahagiaan dan kebebasan hak mereka. Namun, pertanyaannya sekarang ialah, apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Atau apa itu kebahagiaan? Apakah hidup abadi itu bayaran yang setimpal dengan kebahagiaan kita?
Saya tidak mengatakan bahwa sains mustahil untuk mencapai hal tersebut (imortalitas), karena kita tidak pernah tahu sampai di mana nantinya teknologi dan pengetahuan kita bisa berkembang. Itu boleh saja terjadi. Tetapi, perlu kita sadari bahwa kebahagiaan adalah perkara yang berbeda. Memangnya seperti apa bentuk dunia tanpa kematian yang diimpikan sains tersebut? Mari bayangkan, jika andaikata di dunia hanya ada kelahiran tetapi tidak ada kematian; dunia kemungkinan besar tidak akan bisa dihuni lagi; manusia harus berhenti memiliki anak dan dunia akan menjadi tempat yang sangat membosankan dan monoton.
Bayangkan lagi, anggaplah sains menemukan obat penyembuh bagi semua penyakit, pil keabadian misalnya. Kita tidak perlu lagi khawatir kalau jabatan kita akan diganti karena alasan usia; kita tidak perlu khawatir lagi pasangan kita akan meninggalkan kita karena kematian; dan kita tidak perlu khawatir dengan paras kita. Ia tidak akan menua dan akan terus seperti itu layaknya masih berusia 25 tahun. Apakah Anda yakin semua hal ini akan membuat kita bahagia? Jawaban saya ‘tidak’.
Dengan adanya imortalitas, tidak akan ada urgensi atau makna apapun dalam tiap aktivitas kita. Petuah “jangan membuang-buang waktu” atau “waktu adalah pedang” pun menjadi tidak masuk akal, di mana kematian tak lagi berlaku pada kita. Bukankah fakta bahwa waktu kita yang terbatas dan hari-hari kita terhitung, adalah merupakan pendorong utama kita dalam bertindak? Artinya apa, kematian menciptakan urgensi dan makna pada hidup.
Bagi ahli bioetika, seperti Leon Kass, ia berpandangan bahwa “kematian menjadikan kita sebagai manusia yang lebih kompeten dan serius dalam hidup, karena waktu kita yang terbatas adalah dasar kita untuk menjalani hidup yang serius dan bermakna.” Saya kira itu benar. Mari kita lihat para dewa Olimpus, yang awet muda dan cantik jelita itu; idup dalam kedangkalan dan juga sembrono (semoga kita tidak lupa bagaimana Thor yang perkasa kehilangan palunya).h
Olehnya, saya meyakini bahwa apa yang saya harapkan dalam hidup bukan sekadar hal-hal objektif dan material seperti imortalitas, tapi bagaimana cara saya dapat memberikan makna atau arti dalam hidup saya. Hal yang perlu saya tegaskan juga adalah, hidup abadi tak muluk berarti kebahagiaan yang terus-menerus, tetapi juga penderitaan terus-menerus. Ini bukanlah sebuah paradoks, ini adalah satu-satunya kepastian dari hidup kita bahwa, semakin lama kita hidup, semakin besar pula kesempatan kita mendapat kebahagiaan dan tentu saja, penderitaan. Maka dari itu, konklusi ide imortalitas ini begitu jauh dari cita-cita Epikuros, bahwa bukan keabadian yang utama, tetapi kebahagiaan; Di kehidupan yang serba terbatas ini kita harus berusaha bagaimana mendapatkan kebahagiaan (walaupun itu terbatas), daripada mendapat hidup yang abadi dengan penderitaan yang juga abadi. Sementara itu, kita semua pasti menyadari bahwa tolak ukur kebahagiaan manusia itu juga begitu samar dan ambigu—sampai diri kita sendiri pun tidak begitu mengerti apa hal yang sebenarnya kita cari dan yang ingin kita gapai.
Saya tidak menafikkan kemungkinan teknologi dan sains kita bisa mendapatkan solusi atas kematian di masa depan. Saya mengatakan, ‘itu bisa saja terjadi’. Apa yang menjadikannya sebuah kenisbian ialah, apakah capaian imortalitas tersebut nantinya bisa membuat kita bahagia atau justru malah membuat kita makin menderita? Jika imortalitas malah membuat kita mengalami penderitaan yang abadi, lalu apa artinya menjadi abadi?